Selasa, 23 April 2013


Anatomi Alat Reproduksi Wanita


Secara umum alat reproduksi wanita terbagi atas dua bagian yaitu alat kelamin (genetalia) luar dan dalam.

Alat kelamin luar terdiri atas :
*  Mons veneris/mons pubis
        Yaitu suatu bantalan jaringan lemak yang ditutupi oleh kulit, yang terletak di atas symphysis pubis. Setelah pubertas akan ditumbuhi rambut.
*  Labia Mayora (bibir besar)
Berasal dari mons veneris, bentuknya lonjong mnjurus kebawah dan bersatu di bagian bawah. Bagian luar labia mayora terdiri dari kulit berambut, kelenjar lemak, dan kelenjar keringat, bagian dalamnya tidak  berambut dan mengandung kelenjar lemak, bagian ini mengandung banyak ujung saraf sehingga sensitif saat hubungan seks.
*  Labia Minora (bibir kecil)
Merupakan lipatan kecil di bagian dalam labia mayora. Bagian depan mengelilingi klitoris. Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah, sehingga dapat menjadi besar saat keiginan seks bertambah. Labia ini sangat analog dengan scrotum pada pria.
*  Klitoris
Merupakan struktur sangat kecil, sangat sensitif (peka) dan erektil yang terdapat di dalam lipatan preputium dan frenulum. Klitoris terdiri dari dua corpus, yaitu corpora cavernosa yang terletak berdampingan satu sama lain dan memanjang ke belakang untuk melekat pada poriosteum dari corpus ossis pubis. Klitoris merupakan struktur yang sangat disetarakan dengan penis pada pria, tetapi tidak seperti penis pada klitoris tidak terdapat uretra.
*  Kelenjar bartholini
Pada bagian kiri dan kanan bawah, dekat fossa navikulare terdapat kelenjar bartholini. Kelenjar ini berdiameter 1cm, terletak di bawah otot konstriktor kunni, dan mempunyai sluran kecil panjang1,5-2 cmyang bermuara di vulva tidak jauh dari fossa navikulare. Saat koitus, kelenjar ini mengeluarkan getah lender.
*  Vestibulum
Bagian kelamin ini dibasahi oleh kedua labia kanan-kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama).
*  Introitus vagina
Mempunyai bentuk dan ukuran yang  berbeda-beda. Pada seoranf virgo selalu dilindungi oleh labia  minora yang bru dapat dilihat jika bibir kecil ini dibuka. Introitus vagina ditutupi oleh selaput dara (hymen).
*  Perineum
Terletak antara vulva dan anus, panjangnya rata – rata 4 cm. jaringan yang mendukung perineum terutama ialah diafragma pelvis dan diafragma urogenitalis. Difragma pelvis terdiri atas otot levator ani dan otot koksigis posterior serta fasia yang menutupi kedua otot ini. Diafragma urogenitalis terletak eksternal dari diafragma pelvis, yaitu di daerah segitiga antara tuber isiadika dan simfisis pubis. Diafragma urogenitalis meliputi muskulus transverses perinea profunda, otot konstriktor uretra dan fasia internal maupun eksternal yang menutupinya. Perineum mendapat pasokan darah terutama dari arteria pudenda interna dan cabang – cabangnya. Pernafasan perineum terutama oleh nervus pudendus dan cabang – cabangnya. Oleh sebab itu, dalam menjahit robekan perineum dapat dilakukan anestesi blok pudendus.

Alat kelamin dalam terdiri dari :

*  Vagina (liang senggama)
Merupakan saluran muskulo-membranasea (otot-selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar, bagian ototnya berasal dari bagian otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur) sehingga dapat dikendalikan dan dilatih. Selaput vagina tidak mempunyai lipatan sirkuler (berkerut) yang disebut “rugae.” Dinding depan vagina berkurang 9 cm dan dinding belakangnya 11 cm. selaput vagina tidak mempunyai kelenjar sehingga cairan yang selalu membasahi berasl dari kelenjar rahim. Sebagian dari  rahim yang menonjol pada vagina disebut “porsio”(leher rahim). Vagina (liang senggama) mempunyai fungsi penting sebagai jalan lahir bagian lunak, sebagai sarana hubungan seksual, saluran untuk mengalirkan lender dan darah menstruasi. Lendir vagina banyak mengandung glikogen yang dapat dipecah oleh bacteria doderlein,sehingga keasamaan cairan vagina sekitar 4,5 (bersifat asam).
*  Rahim (Uterus)
Bentuk rahim seperti buah pir, dengan berat sekitar 30 gr. Terletak di panggul kecil di antara rectum (bagian usus sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung kemih. Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas untuk tumbuh dan berkembang saat kehamilan. Ruangan rahim berbentuk segitiga, dengan bagian besarnya di atas rahim (fundus) terdapat ligament menuju lupatan paha (kanalis inguinalis), sehingga kedudukan rahim menjadi kearah depan. Lapisn otot rahim terdiri dari tiga lapis, yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembang sehingga dapat memelihara dan mempertahankan kehamilan selama Sembilan bulan. Rahim juga merupakan jalan lahir yang penting dan mempunyai kemampuan untuk mendorong jalan lahir. Segera setelah persalinan otot rahim dapat menutup pembuluh darah untuk menghindri perdarahan setelah persalinan, rahim dalam waktu 42 hari dapat mengecil seperti semula.
           Uterus terdiri atas: fundus uteri, korpus uteri, dan servik uteri. Fundus uteri adalah bagian uteruss proksimal disitu kedua  tuba falopiii masuk ke uterus. Korpus uteri adalah bagian uterus yang terbesar. Servik uteri terdiri atas pers vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio, pers supervaginalis servisis uteri yaitu bagian servik yang berada di atas vagina.
           Uterus sebenarnya terapung-apung dalam rongga pelvis, tetapi terfiksaksi dengan baik oleh jaringan ikat dan ligament yang menyokong. Ligamenta yang memfiksasi uterus adalah sebagai berikut:
1)      Ligamentum cardinal yakni ligamentum yang terpenting yang mencegah uterus tidak turun. Berjalan dari servik dan puncak vagina kea rah latral dinding pelvis.
2)      Ligamentum sacro-uterina kanan dan kiri yakni ligamentum yang menahan uterus supaya tidak banyak bergerak.berjalan dari servikbagian belakang kea rah os sacrum.
3)      Ligamentum rotundum kanan dan kiri yakni ligamentum yang menahan uterus dalam antefleksi. Berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan kea rah lingual kiri dan kanan.
4)      Ligamentum latum kanan dan kiri yakni ligamentum yang meliputi tuba.berjalan dari uterus kea rah lateral.
5)      Ligamentum infundibulo-pelvikum kanan dan kiri yakni ligamentum yang men ahan tuba fallopi. Berjaln dari arah infundibulum ke dinding pelvis.
*  Tuba fallopii
Tuba falloppii berasal dari ujung ligamentum latum, berjalan  kea rah lateral dengan panjang sekitar 12 cm. tuba falloppii bukan merupakan saliran lurus, tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga membedakannya menjadi empat bagian. Di ujungnya terbuka dan mempunyai fimbriae (rumbai-rumbai), shingga dapat menangkap ovum (telur) saat terjadi pelepasan telur (ovulasi). Saluran telur ini merupakan saluran hasil konsepsi (hasil pembuahan) menuju rahim. Tuba falloppii merupakan bagian yang paling sensitif terhadap infeksi dan menjadi penyebab utama terjadinya kemandulan(infertilitas). Fungsi tuba falopii sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum, tempat terjadi pembuahan sebelum mampu menanamkaan diri pada lapisan dalam rahim.
*  Indung telur (ovarium)
Indung telur terletak antara ragim dan dinding panggul, dan digantung ke rahim oleh ligamentum ovarii proprium ke dinding panggul oleh ligamentum infundibulo-pelvikum. Indung telur merupakan sumber hormonal wanita yang paling utama, sehingga mempunyai dampak kewanitaan dalam pengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) pada setiap bulan silih berganti kanan dan kiri. Pada saat telur (ovun) dikeluarkan wanita disebut “dalam masa subur.” Pada saat menopous semua telur menghilang.
*  Parametrium
Parametrium merupakan lipatan peritoneum dengan berbagai penebalan, yang menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba falloppii dan ikut serta menyangga indung telur. Bagian sensitif terhadap infeksi sehingga mengganggu fungsinya.



Daftar Pustaka

Manuaba, Ida Bagus Gede. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta:Arcan.

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.

Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehmilan. Jakarta: Salemba Medika.

Verralls, Sylvia.1997. Anatomi Dan fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar