Rabu, 01 Mei 2013

ANTIBIOTIKA (FARMAKOLOGI KEBIDANAN)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Antibiotika banyak digunakan secara luas pada kehamilan. Karena adanya efek samping yang potensial bagi ibu maupun janinnya, penggunaan antibiotika seharusnya digunakan jika terdapat indikasi yang jelas. Prinsip utama pengobatan wanita hamil dengan penyakit adalah dengan memikirkan pengobatan apakah yang tepat jika wanita tersebut tidak dalam keadaan hamil. Biasanya terdapat berbagai macam pilihan, dan untuk alasan inilah prinsip yang kedua adalah mengevaluasi keamanan obat bagi ibu dan janinnya.
Sebaiknya ibu hamil membatasi konsumsi obat-obatan, terutama antibiotik yang bisa membahayakan tumbuh kembang janin. Karena masa paling krusial yang perlu diwaspadai adalah pada trisemester pertama kehamilan. Antibiotik ini bekerja untuk menghambat pembentukan inti sel. Bila dikonsumsi saat hamil bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang pada janin serta risiko lainnya adalah tidak menutupnya tulang belakang (spina bifida).
B.     Tujuan
1.      Untuk menekan atau menghentikan perkembangan bakteri atau mikroorganisme berbahaya yang ada di dalam tubuh
2.      Mencegah terjadinya infeksi pada suatu penyakit serta dapat mencegah infeksi pada luka

C.    Manfaat
Manfaat antibiotik ini adalah untuk menekan dan untuk membunuh bakteri berbahaya yang berada dalam tubuh manusia yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi suatu penyakit.


BAB II
I S I
1.      Golongan dan Penjelasan Obat Antibiotik  ( Golongan Penisilin )
Informasi obat kali ini akan menjelaskan jenis obat antibiotik penisilin, yang diantaranya menjelaskan dosis obat, komposisi atau kandungan obat, manfaat atau kegunaan dan khasiat atau dalam bahasa medis indikasi, aturan pakai, cara minum/makan atau cara menggunakannya, juga akan menerangkan efek samping atau kerugian, pantangan atau kontra indikasi serta bahayanya, over dosis atau keracunan, dan farmakologi serta mekanisme kerja dari obat penisilin.
Penisilin merupakan kelompok antibiotika Beta Laktam yang telah lama dikenal. Pada tahun 1928 di London, Alexander Fleming menemukan antibiotika pertama yaitu penisilin yang satu dekade kemudian dikembangkan oleh Florey dari biakan Penicillium notatum untuk penggunaan sistemik. Kemudian digunakan P. chrysogenum yang menghasilkan penisilin lebih banyak.
Penisilin yang digunakan dalam pengobatan terbagi dalam penisilin alam dan penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia penisilin alam atau dengan cara sintesis dari inti penisilin. Beberapa penisilin akan berkurang aktivitas mikrobanya dalam suasana asam sehingga penisilin kelompok ini harus diberikan secara parenteral. Penisilin lain hilang aktivitasnya bila dipengaruhi enzim betalaktamase ( penisilinase ) yang memecah cincin betalaktam.

1.1.   Pengelompokan dan Pengenalan Golongan Antibiotik
Untuk kepentingan praktis pengobatan, secara umum antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :
1.      Antibiotika Golongan Aminoglikosid
Antibiotika golongan aminoglikosid bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Aminoglikosid merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces griseus untuk Streptomisin, Streptomyses fradiae untuk Neomisin, Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin, Streptomyces tenebrarius untuk Tobramisin, Micromomospora purpures untuk Gentamisin dan Asilasi kanamisin A untuk Amikasin. Aminoglikosid dari sejarahnya digunakan untuk bakteri gram negatif. Aminoglikosid pertama yang ditemukan adalah Streptomisin. Antibiotika lain untuk bakteri gram negatif adalah golongan Sefalosporin generasi 3 yang lebih aman, akan tetapi karena harganya masih mahal banyak dipakai golongan Aminoglikosid. Aktivitas bakteri Aminoglikosid dari Gentamisin, Tobramisin, Kanamisin, Netilmisin dan Amikasin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobic (yang hidup dengan oksigen). Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan Streptomisin secara kronik misalnya pada terapi Tuberkulosis atau endokarditis bakterial subakut. Resistensi terhadap Streptomisin dapat cepat terjadi, sedangkan resistensi terhadap Aminoglikosid lainnya terjadi lebih berangsur-angsur.
2.      Antibiotika Golongan Sefalosforin
Bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri. Sefalosporin termasuk golongan antibiotika betalaktam. Seperti antibiotik betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin ialah dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin yang aktif terhadap kuman gram positif diantaranya sefalotin, sefaleksin, sefazolin, serta sefradin. Kelompok yang aktif terhadap kuman gram negative seperti sefaklor, sefamandol, mokasalatam, sefotaksim, dan sefoksitin.
3.      Antibiotika Golongan Kloramfenikol
Bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri yang diisolasikan pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal. Efek antimikroba dalam Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman. Efek toksis Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik/darah dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja Kloramfenikol. Kloramfenikol digunakan untuk mengatasi H.influenzae dan S. thypi karena bersifat toksit terhadap sumsum tulang.
4.      Antibiotika Golongan Makrolida
Bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Antibiotika golongan Makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besarnya dalam rumus molekulnya. Golongan Makrolida menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversibel dengan ribosom, dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadar obat Makrolida. Sekarang ini antibiotika Makrolida yang beredar di pasaran obat Indonesia adalah Eritomisin, Spiramisin, Roksitromisin, Klaritromisin dan Azithromisin. Eritromisin banyak digunakan untuk menyembuhkan penyakit legionnaires dan infeksi pneumonia atipik.
5.      Antibiotika Golongan Penisilin
Bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan. Penisilin merupakan kelompok antibiotika Beta Laktam yang telah lama dikenal. Penisilin yang digunakan dalam pengobatan terbagi dalam Penisilin alam dan Penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia Penisilin alam atau dengan cara sintesis dari inti Penisilin.
Ø  Aktivitas dan Mekanisme Kerja Penisilin
Penisilin menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, Penisilin akan menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada mikroba yang sedang aktif membelah. Mikroba dalam keadaan metabolik tidak aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh Penisilin, kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (menghambat perkembangan).
Ø  Efek Samping Penisilin
-       Reaksi hipersensitif, mulai ruam dan gatal sampai serum sickness dan reaksi alergi sistemik yang serius
-       Nyeri tenggorokan atau lidah, lidah terasa berbulu lembut, muntah, diare
-       Mudah marah, halusinasi, kejang
6.      Antibiotika Golongan Beta Laktam
Bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
7.      Antibiotika Golongan Kuinolon
Bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Asam Nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan Kuinolon lama yang dipasarkan sekitar tahun 1960. Penggunaan obat Kuinolon lama ini terbatas sebagai antiseptik saluran kemih saja. Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan atom Fluor pada cincin Kuinolon ( karena itu dinamakan juga Fluorokuinolon ). Perubahan struktur ini secara dramatis meningkatkan daya bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri, memperbaiki penyerapannya di saluran cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.
Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang termasuk golongan ini antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin, Norfloksasin, Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.
Ø  Mekanisme Kerja Kuinolon
Pada saat perkembangbiakan kuman ada yang namanya replikasi dan transkripsi dimana terjadi pemisahan double helix dari DNA kuman menjadi 2 utas DNA. Pemisahan ini akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan pada double helix DNA sebelum titik pisah. Hambatan mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA girase. Peranan antibiotika golongan Kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman dan bersifat bakterisidal, sehingga kuman mati.
8.      Antibiotika Golongan Tetrasiklin
Bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Tetrasiklin pertama kali ditemukan oleh Lloyd Conover. Tetrasiklin merupakan antibiotika yang memberi harapan dan sudah terbukti menjadi salah satu penemuan antibiotika penting. Antibiotika golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah Klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofaciens. Kemudian ditemukan Oksitetrasiklin dari Streptomyces rimosus. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari Klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari spesies Streptomyces lain.
Ø  Mekanisme Kerja Tetrasiklin
Golongan Tetrasiklin termasuk antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Golongan Tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotika Tetrasiklin ke dalam ribosom bakteri gram negatif; pertama yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua ialah sistem transportasi aktif. Setelah antibiotika Tetrasiklin masuk ke dalam ribosom bakteri, maka antibiotika Tetrasiklin berikatan dengan ribosom dan menghalangi masuknya komplek tRNA-asam amino pada lokasi asam amino, sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak.
Pada umumnya efek antimikroba golongan Tetrasiklin, namun terdapat perbedaan kuantitatif dari aktivitas masing-masing derivat terhadap kuman tertentu. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi antibiotika Tetrasiklin.
9.      Kombinasi Antimikroba
Karena kerja dari dua antimikroba Trimetropim dan Sulfametoksazol dalam menghambat reaksi enzimatik obligat berurutan sehingga kombinasi antimikroba ini memberikan efek sinergi. Kombinasi ini lebih dikenal dengan nama Kotrimoksazol.
Aktivitas kombinasi antimikroba Kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua tahap yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam tetrahidrofolat. Sulfometoksazol menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan trimetropim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari asam dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Trimetropim menghambat enzim Dihidrofolat reduktase mikroba secara sangat selektif. Hal ini penting, karena enzim tersebut juga terdapat pada sel manusia.
10.  Antibiotika Golongan Lain
Antiobiotika golongan lain yang ada di Indonesia adalah klindamisin, metronidazol, colistin, tinidazol, fosfomycin, teicoplanin, vancomycin dan linezolid.
Ø  Klindamisin
Digunakan untuk infeksi bakteri anaerob. Seperti infeksi pada saluran nafas, septikemia, dan peritonitis. Untuk pasien yang sensitif terhadap penisilin Klindamisin juga dapat digunkan untuk infeksi bakteri aerobik. Klindamisin juga dapat digunakan untuk infeksi pada tulang yang disebabkan staphylococcus aureus. Sediaan topikalnya dalam bentuk Klindamisin posfat digunkan untuk jerawat yang parah.
Klindamisin efektif untuk infeksi yang disebabkan mikroba sebagai berikut:
-       Bakteri aerobik gram positif seperti golongan Staphylococus dan Streptococus (pneumococcus)
-       Bakteri anaerobik gram negatif termasuk golongan Batericoides dan Fusobacterium
Ø  Metronidazol
Metronidazol efektif untuk bakteri anaerob dan protozoa yang sensitif karena beberapa organisme memiliki kemampuan untuk mengurangi bentuk aktif metronidazol di dalam selnya. Secara sistemik metronidazol digunakan untuk infeksi anaerobik, trikomonasis, amubiasis, lambiasis dan amubiasis hati.
Ø  Colistin
Colistin digunakan dalam bentuk sulfat atau kompleks sulfomethyl, colistimetate. Tablet Colistin sulfat digunakan untuk mengobati infeksi usus atau untuk menekan flora di kolon. Colistin sulfat juga digunakan dalam bentuk krim kulit, bubuk dan tetes mata. Colistimethat digunakan untuk sedian parenteral dan dalam bentuk aerosol untuk pengobatan infeksi paru-paru.
Ø  Tinidazol
Tinidazol merupakan kelompok antibiotika azol. Mekanisme kerjanya dengan cara masuk ke dalam sel mikroba dan berikatan dengan DNA. Dengan cara ini mikroba tidak dapat berkembang biak. Tinidazol adalah antibiotika khusus yang digunakan untuk menghentikan penyebaran bakteri anaerob. Bakteri ini biasanya menginfeksi lambung, tulang, otak dan paru-paru.
Ø  Teicoplanin
Teicoplanin merupakan kelompok antibiotika dari glikopeptida. Bakteri memiliki dinding sel luar yang dipertahankan oleh molekul peptidoglikan. Dinding sel sangat vital untuk mempertahankan pada lingkungan normal di dalam tubuh di mana bakteri hidup. Teicoplanin bekerja dengan mengunci formasi dari peptidoglikan. Dengan cara tersebut dinding bakteri menjadi lemah sehingga bakteri mati. Teicoplanin digunakan untuk infeksi serius pada hati dan darah. Teicoplanin tidak dapat diserap di lambung sehingga hanya diberikan dengan cara infus atau injeksi.
Ø  Vancomycin
Vancomycin bekerja dengan membunuh atau menghentikan perkembangan bakteri. Vancomycin digunakan untuk mengobati infeksi pada beberapa bagian tubuh. Kadangkala digabung dengan antibiotika lain. Vancomycin juga digunakan untuk penderita dengan gangguan hati atau prosthetic (artificial) hati yang alergi dengan penisilin. Dengan kondisi khusus, antibiotika ini juga dapat digunakan untuk mencegah endocarditis pada pasien yang telah melakukan operasi gigi atau operasi saluran nafas atas (hidung atau tenggorokan).
Vancomycin diberikan dalam bentuk injeksi untuk infeksi serius kalau obat lain tidak berguna. Walaupun demikian, obat ini dapat menimbulkan beberapa efek samping yang serius, termasuk merusak pendengaran dan ginjal. Efek samping ini akan sering terjadi pada pasien yang berumur lanjut.

Ø  Linezolid
Linezolid digunakan untuk mengobati infeksi termasuk pneumonia,infeksi saluran kemih dan infeksi pada kulit dan darah. Linezolid termasuk golongan antibiotika oxazolidinon.Cara kerja dengan menghentikan perkembang biakan bakteri.
11.  Golongan Linkosamid
Golongan ini kadang digunakan sebagai pelengkap dalam mengatasi kuman yang tahan terhadap penisilin.
12.  Golongan Polipeptida
Golongan polipeptida dikenal aktif terhadap bakteri gram negative seperti pseudomonas. Golongan ini diantaranya terdiri dari polimiksin, A, B, C, D, E.
13.  Golongan Antimikobakterium
Banyak digunakan untuk melawan mikobakterium. Diantaranya yang termasuk dalam golongan ini adalah etambutol, dapson, streptomisin, INH, dan rifampisin, yang dikenal untuk menyembuhkan TBC dan penyakit lepra.

1.2.   Macam – macam Obat Anti Jamur
Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan, dan ragi. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa menyebabkan infeksi kulit, kuku, mulut atau vagina. Candida merupakan ragi yang merupakan salah satu jenis jamur. Sejumlah Candida umumnya tinggal di kulit. Ada beberapa jenis obat-obatan anti jamur :
·      Anti Jamur Cream
Digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada kulit dan vagina. Antara lain : ketoconazole, fenticonazole, miconazole, sulconazole, dan tioconazole.
·      Anti Jamur Peroral
Amphotericin dan nystatin dalam bentuk cairan dan lozenges. Obat-obatan ini tidak terserap melalui usus ke dalam tubuh. Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi Candida (ruam) pada mulut dan tenggorokan.  Itraconazole, fluconazole, ketoconazole, dan griseofulvin dalam bentuk tablet yang diserap ke dalam tubuh. Digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur. Penggunaannya tergantung pada jenis infeksi yang ada. Contohnya Terbinafine umumnya digunakan untuk mengobati infeksi kuku yang biasanya disebabkan oleh jenis jamur tinea. Fluconazole umumnya digunakan untuk mengobati jamur Vaginal. Juga dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi jamur pada tubuh.
·      Anti Jamur Injeksi
Amphotericin, flucytosine, itraconazole, voriconazole dan caspofungin adalah obat-obatan anti jamur yang sering digunakan dalam injeksi.

2.      Pemilihan Antibiotik Untuk Ibu Hamil
Kehamilan merupakan saat yang krusial dari sisi medis. Sebab pada wanita hamil terdapat janin yang sedang mengalami pertumbuhan. Proses pertumbuhan janin sangat diperngaruhi oleh zat apa yang dimakan ibu. Dalam hal ini, obat-obatan juga mempunyai pengaruh terhadap janin. Namun selama kehamilan, tidak selalu ibu dalam keadaan sehat. Ketika sakit, pemberian obat-obatan sering tak terhindarkan. Salah satu obat yang sering diberikan adalah antibiotik.
Untuk memberikan obat antibiotika pada wanita hamil harus benar-benar dipertimbangkan antara manfaat dan kerugiannya. Pertama-tama harus dilihat dan diperhatikan frekuensi anomali janin. Diantara berbagai antibiotika, hanya beberapa kelas yang merugikan jika digunakan selama kehamilan. Tapi, pengetahuan tentang sebagian besar antibiotika masih terbatas. Ini bisa dilihat dari  peringatan yang dicantumkan oleh produsen antibiotika, untuk tidak memberikan obat saat hamil, terutama pada trisemester pertama.
Kategori Obat Antibiotika Terhadap Kehamilan
Hanya sedikit data yang tersedia mengenai kemanan obat antibiotika terhadap janin. The US Food and Drug Administration (FDA) telah mengelompokkan semua antibiotika berdasarkan risiko penggunaannya pada wanita hamil. Kategori tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Kategori A : Studi pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya risiko pada ibu dan fetus. Hanya sedikit obat yang masuk kelompok ini, diantaranya adalah Nystatin vaginal (Mycostatin).
2.      Kategori B : Meskipun studi hewan percobaan menunjukkan tidak ada risiko, namun studi pada manusia tidak adekuat atau studi pada hewan mencatat ada toksisitas tapi studi pada manusia tidak menunjukkan adanya risiko.
3.      Kategori C : Studi pada hewan menunjukkan toksisitas tapi studi pada manusia tidak adekuat.
4.      Kategori D : Ada bukti berisiko pada manusia.
5.      Kategori X : Ada laporan menyebabkan abnormalitas fetus pada manusia.
Obat-obat antibiotik yang perlu perhatian khusus atau tidak boleh diminum untuk ibu hamil dan menyusui adalah :
1.      Golongan Aminoglikosida (biasanya dalam turunan garam sulfate-nya)
seperti amikacin sulfate, tobramycin sulfate, dibekacin sulfate, gentamycin sulfate, kanamycin sulfate, dan netilmicin sulfate.
2.      Golongan Sefalosporin
seperti : cefuroxime acetyl, cefotiam diHCl, cefotaxime Na, cefoperazone Na, ceftriaxone Na, cefazolin Na, cefaclor dan turunan garam monohydrate-nya, cephadrine, dan ceftizoxime Na.
3.      Golongan Chloramfenicol
seperti : chloramfenicol, dan thiamfenicol.
4.      Golongan Makrolid
seperti : clarithomycin, roxirhromycin, erythromycin, spiramycin, dan azithromycin.
5.      Golongan Penicillin
seperti : amoxicillin, turunan tridydrate dan turunan garam Na-nya.
6.      Golongan Kuinolon
seperti : ciprofloxacin dan turunan garam HCl-nya, ofloxacin, sparfloxacin dan norfloxacin.
7.      Golongan Tetracyclin
seperti : doxycycline, tetracyclin dan turunan HCl-nya (tidak boleh untuk wanita hamil), dan oxytetracylin (tidak boleh untuk wanita hamil).
 Antibiotika banyak digunakan secara luas pada kehamilan. Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi mikroba pada manusia. Sedang antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme (khususnya dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain.
Infeksi merupakan penyebab utama kematian prematur pada bayi. Meskipun terapi profilaksis antibiotik belum terbukti bermanfaat, pemberian obat-obat antibiotik kepada ibu hamil dengan ketuban pecah dini dapat memperlambat kelahiran dan menurunkan insidens infeksi (Lamont dkk, 2001).  Kehamilan akan mempengaruhi pemilihan antibiotik. Umumnya penisilin dan sefalosporin dianggap sebagai preparat pilihan pertama pada kehamilan, karena pemberian sebagian besar antibiotik lainnya berkaitan dengan peningkatan risiko malformasi pada janin. Bagi beberapa obat antibiotik, seperti eritromisin, risiko tersebut rendah dan kadang-kadang setiap risiko pada janin harus dipertimbangkan terhadap keseriusan infeksi pada ibu. Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika dipengaruhi oleh besarnya dosis yang diberikan, lama dan saat pemberian serta sifat genetik ibu dan janin.


3.   Studi Kasus Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) Pada Ibu Hamil
A. DESKRIPSI KASUS
Ny. FS sedang hamil 3 bulan dan menderita ISK, oleh dokter kandungan Ny.FS diresepkan Primadex F 2x sehari selama 5 hari, Folamil 1x sehari dan Domperidone prn untuk mengatasi mual muntah yang kadang muncul dan cukup menggangu.
B. ANALISA KASUS
Untuk menganalisa kasus ini menggunakan metode  SOAP. Analisanya adalah sebagai berikut :
·      Subject
-    Ny.FS terkadang mual dan muntah
-    Merasa perih ketika buang air kecil
-    Sering buang air kecil
·      Object
-    Ny.FS telah hamil 3 bulan
-    Mengalami ISK (Infeksi saluran kemih)
-    Mendapat terapi obat :
ü  Primadex Forte 2x sehari selama 5 hari
ü  Folamil 1x sehari
ü  Domperidon seperlunya
·      Assement
a.    Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang diderita Ny. FS diasumsikan sebagai infeksi saluran kemih (ISK) tanpa komplikasi yang disebabkan oleh  disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Hal ini terjadi  karena pada wanita hamil, dapat lebih sering terkena ISK karena adanya perubahan hormonal dan perubahan dari posisi saluran kencing selama kehamilan. Infeksi saluran kemih (ISK) tanpa komplikasi dapat diterapi paling efektif dengan terapi jangka pendek (3 hari) dengan trimetoprim-sulfametoksazol fluorokuinolon. (Joseph T.Dipiro, 2002)


b.   Terapi farmakologi yang diberikan Primadex Forte mengandung cotrimoksazol terdiri dari Trimetropin 800 mg dan sulfametoksazol 160 mg (2x dari komposisi Primadex), dengan kontraindikasi anemia megaloblastik, hamil dan menyusui, bayi berusia kurang dari 2 bulan. Indeks keamanan Primadex Forte C, yaitu penelitian pada hewan menunjukkan beresiko pada janin (teratogen), tetapi penelitian pada manusia belum ada. Namun bila manfaat obat lebih besar daripada resiko boleh diberikan.
c.    Terapi antibiotik sulfonamid, cotrimoksazol, penisillin, tetrasiklin, sefalosporin,fluorokuinolon tidak boleh diberikan pada ibu hamil trimester ketiga karena dapat menyebabkan teratogen. (Joseph T.Dipiro, 2002). Sedangkan pada kasus Ny.FS hamil pada trimester pertama, sehingga masih dapat diberikan (aman).
d.   Mual muntah yang dialami Ny. FS adalah wajar, karena Ny.FS sedang hamil 3 bulan sehingga masuk dalam trimester pertama atau yang sering disebut “morning sickness”. Mual dan muntah ini terjadi karena terdapat perubahan dalam tubuh selama masa hamil yang mencakup perubahan hormon serta indera penciuman menjadi lebih sensitif. Hal ini juga diperparah oleh kondisi emosional ibu. Biasanya rasa mual akan berhenti pada akhir trismester I masa kehamilan.
e.    Domperindon merupakan lini 3 untuk mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil, sehingga perlu diganti lini 1 yang aman bagi ibu hamil.
f.    Folamil merupakan kombinasi multivitamin dan mineral yang sangat penting meningkatkan  nutrisi bagi ibu hamil.
·      Planning
a.    Terapi Farmakologis
-       Ny. FS yang menderita ISK uncomplicated dapat diatasi dengan pemberian cotrimoxazole dengan durasi pendek yaitu 3 hari. Jadi, terapi farmakologi untuk mengatasi ISK pada Ny. FS adalah Primadex Forte 1 x sehari selama 3 hari.
-       Selama masa kehamilan, asupan vitamin dan mineral harus ditingkatkan. Sehingga diberikan Folamil 1 x sehari.
-       Untuk mengatasi mual dan muntah yang kadang muncul, diberikan vitamin B6 seperlunya.
b.   Terapi Farmakologis Alternatif
-       Untuk mengatasi ISK yang diderita Ny. FS, dapat juga diberikan Amoxicillin 3 gram dosis tunggal selama 7 hari.
-       Untuk menambah asupan vitamin dan mineral diberikan Folamil 1 x sehari.
-       Untuk mengatasi mual dan muntah yang kadang muncul diberikan vitamin B6 seperlunya.
c.    Terapi Non Farmakologis
-       Untuk mengatasi mual muntah dapat diberikan permen jahe yang merupakan antiemetik alami.
-       Memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan untuk mencukupi nutrisi.
-       Memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan untuk mencukupi nutrisi.
-       Cukup istirahat.
·      Monitoring
Tujuan dilakukannya monitoring ini  adalah untuk memaksimalkan efek terapi dan meminimalkan DRPs. Kehamilan pada trimester 1 masih termasuk dalam keadaan rentan, oleh karenanya obat bebas maupun peresepan obat yang diberikan harus benar-benar diperhatikan. Sehingga perlu diterapkan suatu tujuan pemantauan terapi yaitu dengan menentukan monitoring yang spesifik terhadap pasien dan monitoring yang spesifik terhadap obat, selain itu juga terhadap efek samping obat yang diberikan. Untuk kasus yang dialami Ny. FS yang perlu  dimonitoring antara lain :
1.       Monitoring mual dan muntah antara lain :
a.       Memastikan apakah Ny. FS masih sering mengalami mual muntah atau tidak setelah melakukan terapi nonfarmakologi. Namun bila ternyata mual muntah ini membahayakan Ny. FS maka dapat diberikan piridoksin HCl (vitamin B6) untuk mengatasi mual muntahnya. Akan tetapi sebelum penggunaan vitamin B6 ini lebih baik dikonsultasikan dengan dokter terlebih dulu.
b.      Monitoring makanan yang dapat menyebabkan mual muntah.
c.       Monitoring mual muntah karena dapat mempengaruhi pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan.
2.       Monitoring yang dilakukan untuk Infeksi Saluarn Kemih diantaranya :
a.        Melihat lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan kultur urinnya lagi. Untuk memastikan ada kesembuhan atau tidak.
b.       Monitoring keberhasilan terapi secara klinis atau secara mikrobiologis (kultur ulang).
Selain itu juga perlu adanya pemantauan atau monitoring terhadap kepatuhan pasien untuk minum obat selama masa pengobatan dapat mendukung keberhasilan tercapainnya tujuan pengobatan dan hal ini juga tidak terlepas dari peranan keluarga pasien yang ikut memonitoring pasien selama masa pengobatan agar pasien selalu patuh. Monitoring kepatuhannya meminum obat yang diberikan yaitu :
-          Vitamin B6      : diminum saat pasien merasakan mual dan muntah
-          Primadex F      : 1 x sehari selama 3 hari.
Monitoring kepatuhan pasien terhadap penggunaan Primadex F karena jika penggunaan Primadex F dihentikan akan menyebabkan resistensi (< dari 3 hari).
-          Folamil            : 1 x sehari.
-          Amoxicillin     : 3 gram dosis tunggal selama 7 hari (apabila alternatif terapi pengobatannya disetujui oleh dokter).
Monitoring lain seperti :
-          Monitoring terhadap janin Ny. FS, apakah ada efek yang ditimbulkan setelah pemberian obat pada Ny. FS.
-          Monitoring berat badan Ny. FS karena dapat sebagai parameter perkembangan janin dalam kandungan.
-          Memantau kondisi kehamilan/janin pada trisemester I, II, III, seperti melalui test USG (ultrasonografi).
KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI
Pada kasus ini komunikasi, informasi dan edukasi yang dapat disampaikan kepada pasien adalah mengenai cara konsumsi obat secara teratur agar obat yang digunakan dapat memberikan efek terapi secara optimal dan mengenai aturan pakai serta memberikan saran terapi non farmakologi yang dapat dilakukan pasien.
Pada kasus ini, pasien mengalami ISK (Infeksi Saluran Kemih) dan saran yang perlu disampaikan adalah dapat menjaga kebersihan vagina tiap kali buang air kecil dengan cara dari depan ke belakang (mencegah bakteri dari anus masuk ke vagina atau uretra), tidak menahan buang air kecil bila ingin buang air kecil, menghindari faktor-faktor yang dapat memperburuk ISK, minum air putih lebih banyak minimal 2 liter sehari (untuk menstimulasi diuresis sehingga kuman tidak memiliki kesempatan untuk memperbanyak diri dalam kandung kemih), memeriksakan kandungan pada dokter spesialis kandungan untuk mengetahui perkembangan janin karena trimester awal sangat rentan, istirahat yang cukup, dan olahraga yang cukup seperti jalan-jalan di pagi hari serta minum dengan teratur untuk terapi farmakologinya yakni Primadex Forte 1x sehari selama 3 hari.
Untuk mengatasi mual muntah pada masa kehamilan terapi non farmakologi yang perlu dilakukan diantaranya adalah :
1.      Minum air yang hangat, seperti jahe (Sebuah studi yang dipublikasikan oleh American Journal of Obstetrics and Gynecology menemukan bahwa jahe sangat membantu mengurangi morning sickness)
2.      Istirahat yang cukup
3.      Menghirup minyak aroama terapi (fresh care) untuk mengurangi mual
4.      Mengkonsumsi suplemen atau nutrisi (Folamil 1x sehari ) dan mengkonsumsi buah yang mengandung banyak air dan dingin, misal melon, anggur, smoothies, jeruk, atau mentimun
5.      Makan dalam jumlah sedikit namun sering, terutama makan makanan yang tinggi akan kandungan karbohidrat dan protein serta buah-buahan dan makanan yang berisi B6, seperti kuning telur, yogurt, dan whole grain
6.      Hindari makanan yang berlemak, berminyak dan pedas yang akan memperburuk rasa mual
7.      Bila terapi non farmakologi belum dapat mengurangi intensitas mual dan muntah dapat diberikan Vitamin B6 yang  pemakaiannya bila perlu saja
8.      Obat mual muntah dapat dihentikan bila mual muntah sudah tidak dirasakan atau berkurang

C.  EVALUASI OBAT TERPILIH
-       PRIMADEX FORTE
Primadex Forte mengandung kotrimoksazol (Trimetropim-Sulfametoksazol) dimana Sulfametoksazol dan trimetoprim digunakan dalam bentuk kombinasi karena sifat sinergisnya. Kombinasi keduanya menghasilkan inhibisi enzim berurutan pada jalur asam folat. Mekanisme kerja sulfametoksazol dengan mengganggu sintesa asam folat bakteri dan pertumbuhan  lewat penghambat pembentukan asam dihidrofolat dari asam para-aminobenzoat. Dan mekanisme kerja trimetoprim adalah menghambat reduksi asam dihidrofolat  menjadi tetrahidrofolat .
-       KOTRIMOKSAZOL
Trimetoprim dan sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatik obligat pada dua tahap yang berurutan pada mikroba, sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergi. Penemuan sediaan kombinasi ini merupakan kemajuan penting dalam uasaha meningkatkan efektivitas klinik antimikroba. Kombinasi ini lebih dikenal dengan kotrimoksazol.
Efeknya terhadap mikroba :
Ø  Spectrum Antibakteri. Spectrum antibakteri trimetoprim sama dengan sulfametoksazol, meskipun daya antibakterinya 20-100 kali lebih kuat daripada sulfametoksazol. Mikroba yang peka terhadap kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol ialah ; S. pneumoniae, C. diphtheria, dan N meningitis, 50-59 % strain S. aureus, S. epidermidis, S. pyogenes, S. viridians, S. faecalis, E. coli, P. mirabilis, P. morganii, P. rettgeri, Enterobacter, Aerobacter spesies, Salmonela, Shigela, Serratia dan Alcaligenes spesies dan Klebsiela spesies. Juga beberapa strain stafilokokus yang resisten terhadap metisilin, trimetoprim atau sulfometoksazol sendiri, peka terhadap kombinasi tersebut. Kedua komponen memperlihatkan interaksi sinergistik. Kombinasi ini mungkin efektif walaupun mikroba telah resisten terhadap tirmetropim. Sinergisme maksimum akan terjadi bila mikroba peka terhadap kedua komponen.
Ø  Mekanisme Kerja. Aktifitas antibakteri kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua tahap yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam tetrahidrofolat. Sulfonamide menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan trimetoprim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari dihidrofolat menjadi tetrshidrofolat. Tetrahidrofolat penting untuk reaksi-reaksi pemindahan satu atom C, seperti pembentukan basa purin (adenin, guanin, dan timidin) dan beberapa asam amino (metionin, glisin). Sel-sel mamalia menggunakan folat jadi yang terdapat dalam makanan dan tidak mensintensis senyawa tersebut. Trimetoprim menghambat enzim dihidrofolat reduktase mikroba secara sangat selektif. Hal ini penting, karena enzim tersebut juga terdapat pada sel mamalia.
Ø  Resistensi Bakteri. Frekuensi terjadinya resistensi terhadap kotrimaksazol lebih rendah daripada terhadap masing – masing obat, karena mikroba yang resisten terhadap salah satu komponen masih peka terhadap komponen lainnya. Resistensi mikroba terhadap trimetropim dapat terjadi karena mutasi. Resistensi yang terjadi pada bakteri gram-negatif disebabkan oleh adanya plasmid yang membawa sifat menghambat kerja obat terhadap enzim dihidrofolat reduktase. Resistensi S. aureus terhadap trimetropim ditentukan oleh gen kromosom, bukan oleh plasmid. Resistensi terhadap bentuk kombinasi juga terjadi in vivo. Pravalensi resistensi E.coli dan S. aureus terhadap kotrimoksazol meningkat pada pasien yang diberi pengobatan dengan sediaan kombinasi tersebut. Selama lima tahun penggunaan resistensi S. aureus meningkat dari 0,4% menjadi 12,6%. Dilaporkan pula terjadinya resistensi pada beberapa jenis mikroba Gram-negatif.
Ø  Efek Samping. Pada dosis yang dianjurkan tidak terbukti bahwa kotrimoksazol menimbulkan defisiensi folat pada orang normal. Namun batas antara toksisitas untuk bakteri dan untuk manusia relative sempit bila sel tubuh mengalami defisiensi folat. Dalam keadaan demikian obat ini mungkin menimbulkan megaloblastosis, leucopenia, atau trombositopenia. Kira-kira 75% efek samping terjadi pada kulit, berupa reaksi yang khas ditimbulkan oleh sulfonamid. Namun demikian kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol dilaporkan dapat menimbulkan reaksi kulit sampai tiga kali lebih sering dibandingkan sulfisoksazol pada penberian tunggal (5,9% vs 1,7%). Dermatitis eksfoliatif, sindrom Stevens-Johnson dan toxic epidermal necrolysis jarang terjadi. Gejala-gejala saluran cerna terutama berupa mual dan muntah, diare jarang terjadi. Glositis dan Stomatitis relatif sering. Ikterus terutama terjadi pada pasien yang sebelumnya telah mengalami hepatitis kolestatik alergik. Reaksi susunan saraf pusat berupa sakit kepala, depresi dan halusinasi, disebabkan oleh sulfonamid. Reaksi hematologik lainnya ialah berbagai macam anemia (aplastik, hemolitik dan makrositik), gangguan koagulasi, granulositopenia, agranulositosis, purpura, purpura Henoch-Schonlein dan sulfhemoglobinemia. Pemberian diuretik sebelumnya atau bersamaan dengan kotrimoksazol dapat mempermudah timbulnya trombositopenia, terutama pada pasien usia lanjut dengan payah jantung; kematian dapat terjadi. Pada pasien AIDS (Aqcuired immune-deficiency syndrome) yang diberi pengobatan kotrimoksazol umtuk infeksi oleh Pneumocystis carinii, sering terjadi efek samping demam, lemah, erupsi kulit, dan/atau pansitopenia.
Ø  Infeksi Saluran Kemih .Sulfonamid masih berguna untuk infeksi ringan saluran kemih bagian bawah. Tetapi timbulnya resistensi makin meningkat terutama pada bakteri Gram-negatif, sehingga sulfonamide tidak dapat diandalkan untuk pengobatan infeksi yang lebih berat pada saluran kemih bagian atas. Penting untuk membedakan infeksi pada ginjal dan infeksi pada saluran kemih bagian bawah. Sulfonamid digunakan untuk pengobatan sistitis akut maupun kronik, infeksi kronik saluran kemih bagian atas dan bakteriuria yang ansimtomatik. Sulfonamid efektif untuk sistitis akut tanpa penyulit pada wanita. Pengobatan infeksi ringan saluran kemih bagian bawah, dengan kotrimoksazol ternyata sangat efektif, bahkan untuk infeksi oleh mikroba yang telah resisten terhadap sulfonamid sendiri. Dosis 160 mg trimetoprim dan 800 mg sulfametoksazol setiap 12 jam selama 10 hari menyembuhkan sebagian besar pasien. Efek terapi sediaan kombinasi lebih baik daripada masing-masing komponennya terutama bila mikroba penyebabnya golongan enterobacteriaceae. Pemberian dosis tunggal (320 mg trimetoprim dengan 1600 sulfametoksazol) selama 3 hari, juga efektif untuk pengobatan infeksi akut saluran kemih yang ringan. Sediaan kombinasi ini terutama efektif untuk infeksi kronik dan berulang saluran kemih. Pada wanita, efektivitasnya mungkin disebabkan oleh tercapainya kadar terapi dalam secret vaginal. Jumlah mikroba disekitar orificium urethrea menurun sehingga kemungkinan terjadinya infeksi ulang pada saluran kemih bagian bawah berkurang. Dosis kecil (200 mg sulfametoksazol dan 40 mg trimetoprim per hari atau 2-4 kali dosis tersebut yang diberikan satu atau dua kali per minggu) efektif untuk mengurangi frekuensi kambuhnya infeksi saluran kemih pada wanita. Dosis dewasa yang umum digunakan ialah 100 mg setiap 12 jam. Untuk memberikan pengobatan dengan sediaan kombinasi tersebut perlu dipertimbangkan hasil pemeriksaan sensitivitas mikroba.
Pada Planning Farmakologi yang kedua, digunakan amoksisilin karena kotrimoksazol dari berbagai literatur banyak menyebutkan jika kotrimoksazol mempunyai efek teratatogen untuk trisemester 1 sehingga alternatif antibiotik lain yang aman digunakan amoksisilin.
-       AMOKSISILLIN
Amoksisilin yang termasuk antibiotik golongan penisilin bekerja dengan  cara menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis  dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, penisilin akan menghasilkan efek bakterisid. Amoksisillin merupakan turunan ampisillin yang hanya berbeda pada satu gugus hidroksil dan memiliki  spektrum antibakteri yang sama. Obat ini diabsorpsi lebih baik bila diberikan peroral dan menghasilkan kadar yang lebih tinggi dalam plasma dan jaringan.
Ø  Aktivitas dan Mekanisme Kerja Amoksisilin. Amoksisilin merupakan prototip golongan aminopenisilin berspektrumluas, tetapi aktivitasnya terhadap kokus gram positif kurang daripada penisilin G. Semua penisilin golongan ini dirusak oleh β-laktamase yang diproduksi kuman gram positif maupun gram negatif. Amoksisilin (dalam bentuk trihidrat garam sodium) dapat dikombinasikan dengan asamklavulanat (sebagai potasium klavulanat), penghambat β-laktamase, untuk menambah spektrum dalam melawan organisme Gram-negatif, dan untuk melawan mediator antibiotik bakteri yang resisten terhadap produksi β-laktamase.
Amoksisilin bekerja dengan menghambat dinding sel bakteri, dengan menghambat cross-linkage di antara rantai polimer peptidoglikan linear yang menutupi komponen mayor dari dinding sel kuman Gram-positif. Mekanisme kerja antibiotik ini secara ringkas, adalah :
1)      Obat bergabung dengan penicilin-binding protein (PBPs) pada kuman.
2)      Terjadi hambatansintesis dinding sel kuman karena proses transpeptidasi antar rantai peptidoglika terganggu.
3)      Terjadi aktivitas enzim proteolitik  pada dinding sel yang mengakibatkan pecahnya dinding sel bakteri.
Ø  Bakteri yang peka terhadap amoksisilin diantaranya adalah Staphylococcus, Streptococcus, Diplococcus pneumoniae, Bacillusanthracis, Enterococcus, Corynebacterlum diphtherlae, Salmonella sp,Shigella sp, H. Influenzae, Proteus mirabilis, E. Coli, N. Gonorrhoeae, W. Meningitidis.
Ø  Cara PemberianAntibiotik amoksisilin termasuk antibiotik  time deppendent sehingga untuk menjaga konsentrasi obat dalam plasma tetap berada pada kadar  puncak, maka obat diberikan sesuai dengan jadwal waktu yang telah dibuat.Obat dapat diberikan bersamaan dengan makanan.
Ø  Lama Pemberian tergantung pada jenis dan tingkat kegawatan dari infeksinya, jugatergantung pada respon klinis dan respon bakteri penginfeksi. Sebagaic ontoh untuk infeksi yang persisten, obat ini digunakan selama beberapa minggu. Jika amoksisilin digunakan untuk penanganan infeksi yangdisebabkan oleh grup ß-hemolitic streptococci, terapi digunakan tidak kurang dari 10 hari guna menurunkan potensi terjadinya demam reumatik dan glomerulonephritis. Jika amoksisilin digunakan untuk pengobatan ISK (infeksi saluran kemih) maka kemungkinan bisa lebih lama, bahkan beberapa bulan setelah menjalani terapi pun, tetap direkomendasikan untuk diberikan.
Ø  Amoksisilin-kalium klavulanat diindikasikan untuk infeksi saluran kemih berulang pada anak dan dewasa oleh E. coli dan kuman pathogen lain yang mmproduksi betalaktamase, yang tidak dapat diatasi oleh kotrimoksazol, kuinolon atau sefalosporin oral. Dosis amoksisilinklavulanat per oral untuk dewasa dan anak berat > 40 kg ialah 250 mg-125 mg tiap 8 jam. Untuk penyakit berat dosis 500 mg-125 mg tiap 8 jam. Untuk anak berat < 40 kg dosis amoksisilin 20 mg/kg/hari, dosis klavulanat disesuaikan dengan dosis amoksisilin.
-       FOLAMIL
Berikut komposisi yang ada pada folamil :
o   ß-karoten                            10.000 iu
o   Vitamin B1 mononitrate                 10 mg
o   Vitamin B2                                     2,5 mg
o   Nikotinamid                                   20 mg
o   Vitamin B6 HCl                             15 mg
o   Kalsium pantotenat                        7,5 mg
o   Vitamin B12                                   4 mcg
o   Vitamin C                                       100 mg
o   Vitamin D                                       400 iu
o   Asam folat                                      1 mg
o   Kalium iodida                                 100 mcg
o   Ferrous Fumarat                             90 mg
o   Tembaga sulfat                               0,1 mg
o   Kalsium laktat                                250 mg
o   Sodium fluoride                             1 mg
Farmakologi
Folamil adalah kombinasi multivitamin dan mineral yang membantu mencegah kekurangan vitamin dan mineral.
Indikasi
Suplemen vitamin dan mineral selama masa kehamilan dan setelah melahirkan.
Kontraindikasi
Hipersensitivitas ke salah satu dari komponen Folamil.
Dosis & Administrasi
Mengambil 1 caplet setiap hari.

Vitamin B6 (piridoksin)
Penting untuk pembuatan asam amino dalam tubuh. Vitamin B6 juga diberikan untuk mengurangi keluhan mual-mual pada ibu hamil. Vitamin B6 merupakan lini pertama dalam mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil. Piridoksin  merupakan pilihan  utama dalam mengurangi mual muntah  dalam kehamilan, Ulasan Sistematik  Cochrane juga memperlihatkan bahwa  piridoksin memang efektif dalam mengurangi gejala mual muntah,  walaupun tidak terdapat bukti  piridoksin mengurangi frekuensi muntah. (Jewell MD dan Young G, 2003)


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
       Antibiotika banyak digunakan secara luas pada kehamilan. Karena adanya efek samping yang potensial bagi ibu maupun janinnya, penggunaan antibiotika seharusnya digunakan jika terdapat indikasi yang jelas.
Informasi obat kali ini akan menjelaskan jenis obat antibiotik penisilin. Penisilin yang digunakan dalam pengobatan terbagi dalam penisilin alam dan penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia penisilin alam atau dengan cara sintesis dari inti penisilin.
Kehamilan merupakan saat yang krusial dari sisi medis. Sebab pada wanita hamil terdapat janin yang sedang mengalami pertumbuhan. Untuk memberikan obat antibiotika pada wanita hamil harus benar-benar dipertimbangkan antara manfaat dan kerugiannya.
Umumnya penisilin dan sefalosporin dianggap sebagai preparat pilihan pertama pada kehamilan, karena pemberian sebagian besar antibiotik lainnya berkaitan dengan peningkatan risiko malformasi pada janin. Bagi beberapa obat antibiotik, seperti eritromisin, risiko tersebut rendah dan kadang-kadang setiap risiko pada janin harus dipertimbangkan terhadap keseriusan infeksi pada ibu.

B.     Saran
1.   Bagi Tenaga Kesehatan
Terlebih dahulu menganalisa apakah pasien datang dalam keadaan hamil atau tidak ( bila pasien datang wanita ). Karena dalam memberikan obat antibiotik sangat berhati – hati disebabkan kandungan zat-zat dari berbagai macam jenis obat antibiotik dapat mengganggu pertumbuhan janin apabila pasien atau ibu tersebut sedang hamil.
2.   Bagi Masyarakat Umum dan Ibu Hamil
Sebaiknya masyarakat dengan cermat dapat memilih obat antibiotic yang aman untuk dikonsumsi. Lakukan konsultasi pemilihan obat antibiotic sebelumnya dengan dokter agar mendapatkan resep dalam membeli obat antibiotic apa yang harus dikonsumsi pada saat terinfeksi suatu penyakit khususnya disebabkan oleh bakteri.
Untuk ibu hamil usahakan menjaga kondisi saat sedang hamil maupun menyusui. Karena obat antibiotic yang aman saat dikonsumsi saat hamil maupun menyusui jenisnya terbatas. Apabila kurang telaten dalam memilih jenis antibiotic pada saat hamil, akan menyebabkan kelainan atau cacat congenital pada janin yang dikandung.
3.   Bagi Apoteker
Memberikan obat antibiotic sebaiknya sesuai dengan resep dokter. Adanya kekeliruan dalam memberikan obat antibiotic, memberikan dosis serta cara pemakaiannya dapat membahayakan kondisi pasie. Karena bila dosis dan cara minum obat antibiotic harus tepat. Tepat dalam artian meminum obat antibiotic sampai obat tersebut habis dan tidak disisakan karena apabila obat antibiotic tidak diminum habis, penyakit atau bakteri penyebab penyakit tersebut menjadi kebal.


DAFTAR PUSTAKA

ISO INDONESIA Volume 47-2012 s/d 2013
MIMS INDONESIA Petunjuk Konsultasi Edisi 11 2011 / 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar