Rabu, 01 Mei 2013

Menopause dan Therapi Sulih Hormon


BAB I. 
PEMBAHASAN


I.I Menopause dan Therapi Sulih Hormon
a.      Pengertian Menopause
Pada umumnya setiap wanita akan mengalami menopause, namun dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Menopause juga merupakan suatu tahap yang normal dalam kehidupan seorang wanita. Secara fungsional, menopause dapat dianggap sebagai sindrom menghilangnya estrogen. Keadaan ini diketahui dengan terhentinya menstruasi pada wanita dengan timbul tanda dan gejala-gejala seperti hot flashes (rasa panas), insomnia, atrofi vagina, pengecilan payudara, dan penurunan elastisitas kulit. Osteoporosis dan penyakit kardiovaskuler menggambarkan dampak jangka panjang defisiasi estrogen. Keduanya merupakan tanda yang timbul lebih lambat dan kurang dapat diperkirakan dibandingkan tanda dan gejala awal menopause.
Oleh karena itu, kesehatan seorang wanita yang telah menopause harus diperhatikan. Seorang wanita akan mengalami penuaan indung telur, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan akan hormon estrogennya. Maka dari itu, sistem hormonal seluruh tubuhnya mengalami kemunduran dalam reproduksi atau pengeluaran hormon. Kemunduran kelenjar tiroid dengan hormontiroksin untuk metabolisme umum. Kemunduran kelenjar paratiroid yang mengatur metabolisme kalsium. Terdapat peningkatan hormon FSH dan LH. Perubahan kemampuan dalam mereproduksi hormon mengakibatkan berbagai perubahan-perubahan paa diri seorang wanita yang menopause (fisik dan psikis).
Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa menopause adalah penghentian atau terhentinya haid (menstruasi) yang merupakan keadaan yang normal pada seorang wanita berusia lanjut. Menopause juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan tidak terjadinya periode menstruasi selama 12 bulan akibat dari tidak aktifnya folikel sel telur. Periode transisi menopause dihitung dari periode menstruasi terakhir diikuti dengan 12 bulan periode amenorea (tidak mendapatkan siklus haid). Menopause juga merupakan  bagian dari periode transisi perubahan masa reproduktif ke masa tidak reproduktif. Usia rata-rata menopause seorang wanita berkisar 43 – 57 tahun. Namun tidak ada cara yang pasti untuk memprediksi kapan seorang wanita akan memasuki masa menopause. Selain itu, faktor keturunan juga berpengaruh terhadap proses ini, karena seorang wanita akan mengalami menopause pada usia yang  tidak jauh berbeda dari ibunya pada saat mengalami menopause tersebut.

b.      Fisiologi Menopause
Menopause dapat disebabkan oleh sistem saraf pusat dan ovarium. Pada masa menopause ovum berukran kecil dan tidak berisi folikel. Mekanisme yang terkait dalam saraf pusat dan gonad sangat luas dan menggambarkan proses penuaan yang umum.
Fertilitas menurun secara drastis pada wanita saat memasuki usia 35 tahun dan lebih cepat lagi setelah usia tahun. Percepatan setelah usia 40 tahun mungkin merupakan tanda pertama dari kegagalan ovarium yang akan terjadi. Sekitar 3-4 tahun sebelum menopause, kadar FSH mulai meningkat sedikit dan produksi estrogen, inhibin, dan progesteron ovarium menurun. Lamanya siklus menstruasi cenderung memendek seiring dengan fase folikular yang secara progresif memendek. Akhirnya ovulasi dan menstruasi benar-benar berhenti. Usia onset menopause hanya sedikit mengalami sedikit perubahan sepanjang wakktu. Usia menopause dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu contohnya adalah faktor keturunan dari sang ibu. Oleh karena itu, usia menopause seorang ibu dapat dijadikan sebagai perkiraan untuk usia menopause anak perempuannya.
Selama menopause, penurunan produksi estrogen dan inhibin ovarium mengurangi sinyal umpan sinyal negatif terhadap hipofisis dan hipotalamus dan menyebabkan peningkatan yang progresif pada kadar gonadotropin. Karena inhibin bekerja secara khusus untuk meregulasi FSH, maka kadar FSH meningkat secara tidak proporsional terhadap kadar LH. Jika terdapat keraguan, maka peningkatan kadar FSH serum yang menetap memastikan diagnosis menopause. Walaupun produksi estrogen ovarium berhenti, ovarium terus membuat androgen testosteron dan androstenedium.
Mayoritas biosintesis steroid terjadi didalam sel hilus medula kelenjar dan sangat sedikit terjadi di dalam stroma. Sel hilus memiliki asal-usul embriologis yang sama dengan sel leydig testis, yang merupakan sel pensekresi androgen pada pria.
Walaupun produksi estrogen ovarium berhenti saat menopause, wanita pascamenopause tidak sepenuhnya mengalami defisiensi estrogen. Jaringan-jaringan perifer seperti lemak, hati, dan ginjal menghasilkan enzim aromatase dan dapat mengubah androgen yang bersirkulasi menjadi estrogen. Perbedaan utama antara estrogen yang langsung disekresi oleh ovarium dengan estrogen yang berasal dari konversi perifer adalah sebagian besar estrogen yang diprodeuksi dari konversi diperifer adalah estron. Estron merupakan estrogen yang dihasilkan dari aromatisasi endrostenedion, suatu androgen utama yang disekresi oleh ovarium pascamenopause dan kelenjar adrenal. Estron merupakan estrogen yang sangat lemah dibandingkan dengan estradiol. Pada konsentrasi yang biasa ditemuka pada wanita opascamenopause, estron tidak memberikan proteksi terhadap dampak jangka panjang defisiensi estrogen. wanita pascamenopause yan obesitas terlindungi dari dampak jangka panjang ini. Lemak secara khusus kaya akan aktivitas aromatase dan wanita pascamenopause yang obesitas dapat memproduksi estron dalam jumlah yang besar. Jumlah estron endogen yang besar, memberikan perlindungan terhadap risiko gejala vasomotor dan esteoporosis pada menopause. Pajanan terus-menerus endometrium terhadap stimulasi estrogen yang tidak dilawan oleh progesteron pascaovulasi akan meningkatkan risiko terjadinya hiperplasia dan karsinoma endometrium. Endometrium tidak pernah di konversi dari keadaan proliferatif yang fisiologis menjadi bentuk secretorif dan pertumbuhan yang tidak terkontrol dapat menimbulkan perubahan neoplastik. Risiko terhadap stimulasi endometrium yang serupa juga terjadi pada wanita ynag hanya mendapatkan estrogen sebagai pengganti hormon pascamenopause.

c.       Tanda dan Gejala Menopause
Gejala-gejala yang normal dialami pada masa menopause diantaranya
·         Hot flashes
Hot flashes umum terjadi pada wanita menopause, berlangsung selama 30 detik sampai beberapa menit, dan kadang diikuti dengan berkeringat terutama malam hari. Lingkungan panas, makan makanan atau minuman panas atau makanan pedas, alkohol, kafein, dan stress dapat menyebabkan terjadinya hot flashes. Hot flashes nokturnal sering membangunkan wanita dari tidurnya dan dapat menyebabkan gangguan tidur yang berat atau insomnia. Sebagian besar wanita merasakan sensasi tekanan pada kepala yang diikuti oleh rasa panas atau terbakar. Modifikasi gaya hidup, olahraga teratur, dan meredakan kecemasan dapat menurunkan gejala ini. Hubungi dokter bila memerlukan obat-obat antidepresi atau terapi hormonal.
·         Kekeringan pada vagina
Gejala pada vagina dikarenakan vagina yang menjadi lebih tipis, lebih kering, dan kurang elastik berkaitan dengan turunnya kadar hormon estrogen. Gejalanya adalah kering dan gatal pada vagina atau iritasi dan atau nyeri saat bersenggama. Dapat menggunakan pelumas vagina yang dijual bebas atau krim pengganti estrogen yang digunakan dengan mengusapkannya pada vagina. Apabila terjadi perdarahan setelah menggunakan krim estrogen segera pergi ke dokter
·         Gangguan tidur
Lakukan latihan fisik sekitar 30 menit per hari tapi hindari berolahraga dekat dengan waktu tidur. Hindari alkohol, kafein, makan dalam jumlah besar, dan bekerja tepat sebelum waktu tidur. Usahakan suhu kamar tidur tidak terlalu panas. Hindari tidur siang dan coba untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap harinya. Dapat dilakukan latihan relaksasi seperti meditasi sebelum tidur
·         Gangguan daya ingat
Pada masa menopause, wanita sangat memungkinkan untuk mendapatkan gangguan pada daya ingatnya saat masa menopause. Maka dari itu, wanita yang menopause dianjurkan Tidur dalam jumlah yang cukup dan usahakan tetap aktif selalu agar daya ingat para wanita tetap terpelihara dan tetap dapat mempertahankan daya ingatnya.
·         Perubahan pada tulang
Hilang massa tulang pada wanita sebenarnya dimulai pada usia 30an. Kehilangan massa tulang yang paling cepat terjadi dalam 3-4 tahun pertama setelah menopause. Osteoporosis yang disebabkan oleh defisiensi estrogenyang berkepanjanganmeliputi penurunan kuantitas tulang tanpa perubahan pada komposisi kimianya. Pembentukan tulang oleh osteoklas normal pada wanita yang mengalami defisiensi estrogen, namun kecepatan resorpsi tulang osteoklas meningkat. Tulang trabekuler adalah yang pertama terkena, diikuti oleh tulang kortika. Estrogen tampaknya bekerja secara berlawanan dengan efek hormon paratiroid (PTH) pada mobilisasi kalsium. Hal ini mungkin terjadi sebagai efek langsung dari estrogen pada tulang karena reseptor estrogen ditemukan pada sel-sel tulang yang dikultur.
·         Perubahan kardiovaskuler
Reseptor estrogen terdapat pada pembuluh darah dan estrogen tampaknya secara klinis menurunkan resistensi vaskuler dan meningkatkan aliran darah. Suatu mekanisme yang mungkin mengenai bagaimana estrogen dapat memperbaiki aliran darah adalah melalui kemampuan dalam menurunkan produksi endotelin, suatu vasokontriktor yang poten, oleh endoteli vaskuler. Terapi estrogen juga berhubungan dengan meningkatnya lipoprotein berdensitas tinggi (HDL) dan menurunkan lipoprotein berdensitas rendah (LDL).
·         Perubahan mood
Pada wanita yang berada dalam masa menopause sangatlah sering mengalami perubahan mood dan perubahan emosional. Seperti halnya mudah tersinggung, suka marah dan sebagainya. Salah satu car untukmengatasinya adalah dengan tidur dalam jumlah yang cukup dan usahakan aktif selalu dalam kegiatan guna mengisi waktu-waktu yang kosong.
·         Penurunan keinginan berhubungan seksual
Pada beberapa kasus penyebab penurunan keinginan seksual adalah faktor emosi. Selain itu, penurunan kadar estrogen menyebabkan kekeringan pada vagina sehingga berhubungan seksual menjadi tidak nyaman dan sakit. menkonsumsi hormon androgen dapat meningkatkan gairah seksual dan pemakaian pelumas dapat mengurangi nyeri. Beberapa wanita mengalami perubahan gairah seksual akibat rasa rendah diri karena perubahan pada tubuhnya.
·         Gangguan berkemih
Kadar estrogen yang rendah menyebabkan penipisan jaringan kandung kemih dan saluran kemih yang berakibat penurunan kontrol dari kandung kemih atau mudahnya terjadinya kebocoran air seni (apabila batuk, bersin, atau tertawa) akibat lemahnya otot di sekitar kandung kemih. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih.
Hal tersebut diatasi dengan latihan panggul (pelvic floor exercise).  Kontraksikan otot panggul seperti ketika sedang mengencangkan atau menutup vagina atau membuka anus (dubur). Tahan kontraksi dalam 3 hitungan kemudian relaksasikan. Tunggu beberapa detik dan ulangi lagi. Lakukan latihan ini beberapa kali dalam sehari (dengan total 50 kali per hari) maka dapat memperbaiki kontrol kandung kemih

·         Perubahan fisik lainnya
Distribusi lemak dalam tubuh setelah menopause menjadi berubah, lemak tubuh pada umumnya terdeposit pada bagian pinggang dan perut. Selain itu terjadi perubahan di tekstur kulit yaitu keriput dan jerawat. Sejak meopause, badan wanita menghasilkan sedikit hormon pria testosteron yang mengakibatkan beberapa wanita dapat mengalami pertumbuhan rambut pada bagian dagu, bagian bawah dari hidung, dada, atau perut.
  
d.      Penatalaksanaan
v  Menghindari Perubahan Kejiwaan
Perubahan dan gejolak jiwa menghadapi masa tua (menopause) dapat dihindari dengan adanya keharmonisan dan saling pengertian serta kasih sayang yang penuh. Ditengah keluarga yang harmonis, kesiapan menerima proses penuaan semakin besar tanpa adanya gejala klinis yang berat ataupun berarti.
v  Menghindari Penuaan Kulit Terlalu Cepat
Semakin tua umur seseorang maka semakin tipis kulit seseorang tersebut,dan semakin sensitif terhadap sinr matahari. Lapisan lemak yang berada di bawah kulitnya semakin longgar yang dapat menyebabkan kulit keriput dan kering di daerah wajah, dagu, dan leher. Maka dari itu, wanita dianjurkan  menjaga dan merawat kulitnya pada sebelum masa menopause taupun pada masa menopause itu datang.
v  Menyesuaikan Pola Makan
Sebaiknya wanita hanya memakan makanan yang diperlukan saja yang memenuhi syarat 4 sehat 5 sempurna. Jangan memakan makanan yang banyak mengandung kolestrol. Makan hanyalah sekedar dapat mempertahankan proses pergantian jaringan yang rusak dan mengelupas. Kelebihan makan dapat mengakibatkan perubahan berat badan dan dapat menybabkan berbagai penyakit seperti kencing manis, hipertensi, kolestrol tinggi, penyakit jantung koroner dan sebagainya. Hal ini disebabkan karna adanya penurunan hormon yang dibutuhkan oleh tubuh dan penurunan kemampuan metabolisme dalam tubuh.
Pada masa menopause wanita sangat dianjurkan untuk memakan sayur-sayuran dan buah-buahan. Hal ini dikarenakan sayur dan buah sangat banyak mengandung vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh dan dapat menurunkan lemak dan kolestrol dalam tubuh.
v  Mempertahankan Aktifitas Seksual
Mada masa menopause, aktifitas seksual masihlah merupakan suatu kebutuhan bagi pasangan suami-istri. Namun, dalam masa ini kuantitas seksual tersebut telah menurun dan untuk mencapai kualitas seksual tersebut sangatlah sulit pada menopause ini. Untuk mencapai kualitas dan tingkat eksotis haruslah memerlukan waktu dan kesabaran antara keduabelah pihak
Untuk dapat mencapai dan memberikan fantasi erotik yang lebih sempurna, pastinya memerlukan sebuah bayangan, melihat adegan erotik, dan dapat disolusikan denagn cara memutar film yang dapat meningkatkan kegairahan seksual (pemutaran film seksual jangan disalahartikan, hanya semata-mata untuk keharmonisan sebuah keluara).  Konsep aktifitas seksual sudah dijabarkan dengan tujuan dan berdasarkan kepentingan kekeluargaan.
v  Mempertahan Aktivitas Fisik
Untuk mempertahankan aktivitas fisik wanita dalam masamenopause ini dapat dilakukan dengan cara berolahraga ataupun mengikuti senam ataupun olahraga lainnya yang sesuai dengan kemampuannya.

e.       Therapi Sulih Hormon
Pada wanita menopause tidak mengalami haid (menstruasi) yang disebabkan oleh kekurangan hormon estrogen, maka pengobatannya adalah dengan cara pemberian hormon pengganti estrogen, yang dikenal dengan istilah Terapi Pengganti Estrogen atau Estrogen Replacement Therapy (ERT). Karena pemberian estrogen ini biasanya dikombinasikan dengan pemberian hormon progesteron, maka dikenal istilah Terapi Pengganti Hormon (TPH) atau Terapi Sulih Hormon (TSH) atau Hormone Replacement Therapy (HRT). Banyak wanita menopause yang mendapatkan terapi hormon estrogen saja atau estrogen dan progesteron untuk mengatasi gejala yang menyertai menopause. Pemberian hormon ini juga diharapkan dapat mencegah terjadinya osteoporosis dan mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung iskemik. Pemberian hormon pada wanita menopause bertujuan untuk mengembalikan keadaan hormonal seperti pada saat premenopause, namun hingga kini tidak ada preparat sulih hormon yang dapat menyamai pola sekresi hormon pada wanita premenopause. Pemberian terapi sulih hormon tidak ditujukan untuk mencegah terjadinya menopause, melainkan hanya ditujukan untuk mencegah dampak kesehatan akibat menopause tersebut, baik keluhan jangka pendek maupun jangka panjang. Cara pemberian hormon yang sangat efektif adalah secara oral. Keuntungan pemberian cara oral adalah dapat menstimulasi metabolisme kolesterol HDL di hati dan faktor-faktor tertentu di hati yang dapat membentuk metabolisme kalsium, sehingga sangat baik digunakan untuk mencegah kekeroposan tulang dan perkapuran dinding pembuluh darah (aterosklerosis). Bila tidak dapat diberikan terapi sulih hormon (TSH) secara oral, misalnya timbul mual, muntah atau lainnya, maka dapat dipikirkan pemberian cara lain, yaitu estrogen transdermal berupa plester dengan dosis 25 - 50 ug/hari. Selain itu dapat juga diberikan estrogen dalam bentuk krem, yang sangat baik untuk mengatasi keluhan berupa atrofi epitel vagina (dispareunia). Kedua cara pemberian tersebut (transdermal dan krem) perlu juga disertai dengan pemberian progesteron. Beberapa kontraindikasi yang harus diketahui sebelum pemberian TSH dimulai antara lain adalah: hipertensi kronik (telah dimulai sebelum menopause), obesitas, varises yang berat, menderita penyakit kelenjar tiroid atau sedang dalam perawatan, menderita atau dengan riwayat penyakit hati yang berat, hasil pap smear abnormal, kanker payudara dan gangguan fungsi ginjal . Kontraindikasi yang begitu banyak sebenarnya berlaku untuk pemberian pil kontrasepsi, karena pil kontrasepsi mengandung hormon estrogen dan progesteron sintetik, sedangkan terapi sulih hormon menggunakan hormon alamiah. Beberapa kontraindikasi seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke merupakan kontraindikasi untuk pil kontrasepsi, namun bukan merupakan kontraindikasi untuk pemberian terapi sulih hormon. Organisasi Kesehatan se Dunia (World Health Organization/WHO) pada tahun 1997 telah membuat kesepakatan bahwa untuk pencegahan keluhan jangka panjang perlu diberikan TSH sedini mungkin, yaitu 1-2 tahun setelah masa menopause, meskipun wanita tersebut belum mengalami keluhan apapun. Keluhan-keluhan yang timbul akibat kekurangan estrogen pada umumnya baru akan menghilang setelah pengobatan berlangsung selama 18 – 24 bulan. Mengenai berapa lama TSH dapat diberikan, masih terjadi silang pendapat, namun kebanyakan ahli menganjurkan penggunaannya selama 10 - 20 tahun, atau selama wanita tersebut masih merasa nyaman dan ingin terus menggunakannya. Selama pemberiannya dikombinasikan dengan progesteron, maka tidak perlu takut dengan keganasan. Jarang dijumpai penyembuhan dalam waktu singkat. Bila setelah beberapa bulan pengobatan keluhan tidak juga hilang meskipun dosis telah dinaikkan, maka perlu dicari faktor-faktor lain yang mungkin terjadi bersamaan dengan keluhan klimakterik.
Lama penggunaan terapi sulih hormon di dalam panduan The Hong Kong College of Obstreticians and Gynaecologists diyatakan tidak ada aturan mengenai lamanya penggunaan terapi sulih hormon, namun berdasarkan hasil studi WHI disarankan agar berhati-hati bila meresepkan terapi sulih hormon jangka panjang. Menurut NHMRC lamanya pemberian terapi sulih hormon diantaranya:
ü  Untuk penatalaksanaan gejolak panas, pemberian terapi sulih hormon sistemik selama 1 tahun dan kemudian dihentikan total secara berangsur-angsur (dalam periode 1-3 bulan) dapat efektif.
ü  Untuk perlindungan terhadap tulang dan menghindari atrofi urogenital, pemakaian jangka lama diindikasikan tetapi lamanya waktu yang optimal tidak diterangkan dengan jelas.
ü  Setelah penghentian terapi masih terdapat manfaat untuk perlindungan terhadap tulang dan koroner, tetapi menghilang bertahap setelah beberapa tahun.
Mengacu pada hasil penelitian terbaru dari WHI, lama pemakaian terapi sulih hormon di Indonesia maksimal 5 tahun. Hal ini ditentukan berdasarkan aspek keamanan penggunaan terapi sulih hormon jangka panjang. 

f.       Efek Terapi Sulih Hormon
Seperti semua obat lainnya, sulih hormon juga dapat menimbulkan efek samping. Efek samping terkait estrogen berupa mastalgia (nyeri pada payudara), retensi cairan, mual, kram pada tungkai dan sakit kepala. Kenaikan tekanan darah dapat terjadi, namun sangat jarang. Perlu untuk menginformasikan kepada pasien bahwa mastalgia tidak berkaitan dengan kanker payudara. Sedangkan efek samping terkait progestin antara lain retensi cairan, kembung, sakit kepala dan mastalgia, kulit berminyak dan jerawat, gangguan mood dan gejala seperti gejala pramenstrual. Perdarahan vagina merupakan keluhan yang sering ditemui dan meresahkan wanita. Penggunaan progestin kontinyu dapat menyebabkan perdarahan vagina yang tidak dapat diprediksi polanya, dengan atau tanpa spotting selama beberapa bulan. Sebanyak 5-20% dari wanita ini bisa pernah mengalami amenorea dan mungkin beralih ke terapi hormon siklik yang memberikan pola perdarahan yang lebih dapat diprediksi. Keluhan-keluhan ini menghilang sendiri dalam beberapa bulan atau dengan mengganti jenis dan dosis sulih hormon. Pada pemakaian plester dapat terjadi iritasi kulit. Banyak orang berpendapat bahwa pemakaian terapi sulih hormon dapat menyebabkan penambahan berat badan namun berbagai penelitian tidak membuktikan adanya hubungan antara sulih hormon dengan kenaikan berat badan permanen. Nafsu makan memang meningkat, namun diperkirakan akibat wanita tersebut merasa sehat dan nyaman. Pemberian terapi sulih hormon mempengaruhi distribusi lemak, terutama pada panggul dan paha, namun tidak pada perut. Perlu diingat bahwa 45% wanita mengalami kenaikan berat badan pada usia 50-60 tahun meskipun mereka tidak mendapatkan terapi sulih hormon.




I.II Andropause
a.      pengertian Andropause
Andropause berasal dari kata andro yang berarti pria dan pause yang berarti penghentian. Maka andropause dapat diartikan sebagai berhentinya proses fisiologi pada seorang pria. Andropause merupakan sindrom pada pria lansia yang berupa penurunan kemampuan fisik, seksual dan psikis. Hal ini selalu dihubungkan dengan penurunan kadar hormon testosteron dalam darah.
Pada pria yang mengalami andropause terdapat penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Perubahan yang terjadi pada pria lansia tersebut tentunya sangatlah bervariasi antara individu dan biasanya tidak sampai menyebabkan hipogonadisme yang berat.
Proses penuaan pada pria yang normal biasanya dipengaruhi oleh penurunan 3 (tiga) hormon yakni; hormon testosteron. Insulin growth factor dan growth hormon.

b.      Fisiologi Andropause
Testosteron merupakan hormon seks laki-laki (androgen) yang terpenting. Hormon testosteron juga merupakan hormonsteroid yang terbentuk dari kholesterol. Testosteron di sekresikan oleh sel-sel interstisial leydig yang terdapat didalam testis. Sebenarnya testis mensekresi beberapa hormon, yakni hormon testosteron, dihidroostestosteron, androstenedion. Namun, karena jumlah testosteronlah yang memiliki jumlah lebih banyak daripada hormon lainnyamaka testosteron dianggap hormon testikular yang paling penting walaupun sebagian testosteron diubah menjadi dihidrotestosteron yang lebih aktif terhadap jaringan yang ditargetkan.
Sebelum testosteron menjadi bioaktif biasanya androgan diubah terlebih dahulu menjadi dihidrotestosteron. Androgen (testosteron, dihidrotestosteron, androstendion) pada umumnya sangat dibutuhkan dalam perkembangan sifat-sifat seks primer maupun sekunder pada laki-laki.
Testosteron dalam jumlah besar disekresi oleh sel setroli yang terdapat didalam jaringan testis yang berada diantara jaringan interstisial. Dan sebagian kecilnya di sekresi oleh kelenjar adrenalis.
Dalam peredaran darah, androgen akan berikatan dengan suatu molekul protein (binding protein). Hanya sebagian kecil androgen saja yang tidak berikatan (bebas). Selain berikatan dengan molekul protein, sebagian androgen juga berikatan dengan globulin yang di sebut sex hormon binding globuline (SHBG). Dengan adanya ikatan tersebut itu dapat memudahkan androgen untuk memasuki sel yang ditargetkan dan memberikan efek fisiologisnya.
Pada usia 20 tahun, pria memiliki kadar testosteron tertinggi yang akan dipertahankan dalam jangka waktu sekitar 10-20 tahun. Namun, testosteron tersebut akan mengalami penurunan sekitar 1% setiap tahunnya dan pada usia lanjut, pria akan mengalami penurunan fungsi sistem reproduksi sebagai akibat dari penurunan jumlah hormon testosteron dan availabilitasnya.
Selain berpengaruh terhadap perkembangan seks primer dan sekunder pada pria, testosteron juda berengaruh terhadap pertumbuhan tulang, sistem imun, metabolisme basal, produksi sel darah merah,serta pengaturan elektrolit dan keseimbangan cairan dalam tubuh seorang laki-laki. Akibat yang merupakan dari penurunan hormon tostesteron yakni diantaranya kelelahan, gangguan mood, spermatogenesis terganggu, perasaan bingung, gangguan ingatan, rasa panas(hot flush), keringat pada malam hari, insomnia, dan sebagainya.
Pada usia lanjut (sekitar 40 tahun) pria akan mengalami penurunan testosteron  didalam darah aktif sekitar 0,8-1,6 % setiap tahunnya dan bioavailibitasnya sekitar 50% pada umur 25-75 tahun.

c.       Tanda Dan Gejala Andropause
Bersamaan dengan proses penuaan, ritme sirkardian testosteron menghilang. Penurunan kadar testosteron pada pria menimbulkan beberapa gejala dan keluhan sebagai berikut:
Ø  Ganguan vasomolor
Tubuh terasa panas, insomnia, rasa gelisah, takut akan perubahan yang terjadi.
Ø  Gangguan kognitif dan suasana hati
Mudah lelah, penurunan konsentrasi, keluhan depresi, nervous, kurang percaya diri, menurunnya motivasi dalam berbagai hal.
Ø  Gangguan virilitas
Menurunnya kekuatan dan berkurangnya tenaga secara signifikan, menurunnya kekuatan dan massa otot, perubahan pertumbuhan rambut, perubahan kualitas dan kuantitas kulit, osteoporosisi, dan penumpukan lemak dapa daerah abdominal.
Ø  Gangguan seksual
Menurunnya minat seksual, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi dan ejakulasi, menurunnya libido yang menyebabkan turunnya minat seksual.

d.      Penatalaksaan (Pengobatan)
Pada zaman dahulu penurunan hormon akibat bertambahnya usia dianggap tidak dapat diobati, namun paradigma sekarang telah mengubah anggapan tersebut. Pengobatan yang paling tepat untuk androgen adalah penerapah terapi sulih hormon dengan pemberian hormon testosteron.
Prinsip penatalaksaan kadar testosteron adalah mempertahankan kadar testosteron tersebut tetap normal. Tujuan dari pemberian terapi adalah guna mempertahankan kadar testosteron di dalam rentan nilai yang normal.
Cara pemberiannya dapat diberikan dalam bentuk tablet (per oral) dan cairan yang disuntikkan (per intra muscular).


BAB II.
 PENUTUP
II.I Kesimpulan
Menopause adalah penghentian atau terhentinya haid (menstruasi) yang merupakan keadaan yang normal pada seorang wanita berusia lanjut atau sebagai suatu keadaan tidak terjadinya periode menstruasi selama 12 bulan akibat dari tidak aktifnya folikel sel telur. Gejala-gejala yang normal dialami pada masa menopause diantaranya:
Ø  Hot flashes
Ø  Kekeringan pada vagina
Ø  Gangguan tidur
Ø  Gangguan daya ingat
Ø  Perubahan pada tulang
Ø  Perubahan kardiovaskuler
Ø  Penurunan keinginan berhubungan seksual
Ø  Perubahan mood
Ø  Gangguan berkemih
Ø  Perubahan fisik lainnya
Penatalaksaan dengan cara seperti menghindari perubahan kejiwaan, menghindari penuaan terlalu cepat, menyesuaikan pola makan, mempertahankan aktivitas fisik dengan cara berolahraga ataupun senam, serta mempertahankan aktivitas seksual.
Pada wanita menopause tidak mengalami haid (menstruasi) yang disebabkan oleh kekurangan hormon estrogen, maka pengobatannya adalah dengan cara pemberian hormon pengganti estrogen, yang dikenal dengan istilah Terapi Pengganti Estrogen atau Estrogen Replacement Therapy (ERT). Karena pemberian estrogen ini biasanya dikombinasikan dengan pemberian hormon progesteron, maka dikenal istilah Terapi Pengganti Hormon (TPH) atau Terapi Sulih Hormon (TSH) atau Hormone Replacement Therapy (HRT). Sama halnya dengan pria, pria yang andropause akan diberikan hormon testosteron . terapi itu juga disebut dengan therapi sulih hormon (TSH). Efek samping terkait estrogen berupa mastalgia (nyeri pada payudara), retensi cairan, mual, kram pada tungkai dan sakit kepala.
Andropause berasal dari kata andro yang berarti pria dan pause yang berarti penghentian. Maka andropause dapat diartikan sebagai berhentinya proses fisiologi pada seorang pria. Andropause merupakan sindrom pada pria lansia yang berupa penurunan kemampuan fisik, seksual dan psikis. Hal ini selalu dihubungkan dengan penurunan kadar hormon testosteron dalam darah.
Testosteron merupakan hormon seks laki-laki (androgen) yang terpenting. Hormon testosteron juga merupakan hormonsteroid yang terbentuk dari kholesterol. Testosteron di sekresikan oleh sel-sel interstisial leydig yang terdapat didalam testis. Sebenarnya testis mensekresi beberapa hormon, yakni hormon testosteron, dihidroostestosteron, androstenedion. Testosteron dalam jumlah besar disekresi oleh sel setroli yang terdapat didalam jaringan testis yang berada diantara jaringan interstisial. Dan sebagian kecilnya di sekresi oleh kelenjar adrenalis.
Dalam peredaran darah, androgen akan berikatan dengan suatu molekul protein (binding protein). Hanya sebagian kecil androgen saja yang tidak berikatan (bebas). Selain berikatan dengan molekul protein, sebagian androgen juga berikatan dengan globulin yang di sebut sex hormon binding globuline (SHBG). Dengan adanya ikatan tersebut itu dapat memudahkan androgen untuk memasuki sel yang ditargetkan dan memberikan efek fisiologisnya. Pada usia 20 tahun, pria memiliki kadar testosteron tertinggi yang akan dipertahankan dalam jangka waktu sekitar 10-20 tahun. Namun, testosteron tersebut akan mengalami penurunan sekitar 1% setiap tahunnya dan pada usia lanjut, pria akan mengalami penurunan fungsi sistem reproduksi sebagai akibat dari penurunan jumlah hormon testosteron dan availabilitasnya.
Pada usia lanjut (sekitar 40 tahun) pria akan mengalami penurunan testosteron  didalam darah aktif sekitar 0,8-1,6 % setiap tahunnya dan bioavailibitasnya sekitar 50% pada umur 25-75 tahun. Tanda dan gejala andropause diantaranya:
v  Ganguan vasomolor
Tubuh terasa panas, insomnia, rasa gelisah, takut akan perubahan yang terjadi.
v  Gangguan kognitif dan suasana hati
Mudah lelah, penurunan konsentrasi, keluhan depresi, nervous, kurang percaya diri, menurunnya motivasi dalam berbagai hal.
v  Gangguan virilitas
Menurunnya kekuatan dan berkurangnya tenaga secara signifikan, menurunnya kekuatan dan massa otot, perubahan pertumbuhan rambut, perubahan kualitas dan kuantitas kulit, osteoporosisi, dan penumpukan lemak dapa daerah abdominal.
v  Gangguan seksual
Menurunnya minat seksual, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi dan ejakulasi, menurunnya libido yang menyebabkan turunnya minat seksual.
Pada dasarnya pengodatan pada pria andropause adalah sama halnya dengan wanita yang menopause yakni dengan terapi sulih hormon, namun hormon yang diberikan tentunya berbeda dan sesuai dengan kebutuhannya seorang pria. Prinsip penatalaksaan kadar testosteron adalah mempertahankan kadar testosteron tersebut tetap normal. Tujuan dari pemberian terapi adalah guna mempertahankan kadar testosteron di dalam rentan nilai yang normal. Cara pemberiannya dapat diberikan dalam bentuk tablet (per oral) dan cairan yang disuntikkan (per intra muscular).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar